Redesign Produk dengan Pendekatan Design Thinking berbasis Value Chain Analysis dan Storytelling
Mengapa Rebranding Sangat Penting?
5 Tahap Design Thinking
-
Empathize
Di tahap ini saya mencoba memahami siapa yang sebenarnya akan berinteraksi dengan produk ini. Bukan dari asumsi saya sendiri, tapi dari sudut pandang konsumen yang mungkin belum pernah mengenal Deppa Tori sama sekali. Saya tidak melakukan wawancara fisik, tapi saya melakukan desk research melalui Pinterest untuk melihat pola perilaku konsumen produk lokal serupa yang sudah masuk ke pasar yang lebih luas. Dari situ saya mulai membangun gambaran tentang siapa yang sebenarnya perlu dijangkau.
-
Define
Setelah punya gambaran tentang konsumennya, saya perlu mendefinisikan masalah yang sebenarnya. Dan ini yang menarik karena masalahnya ternyata bukan di produk. Deppa Tori punya bahan yang kuat, proses yang khas, dan identitas budaya yang dalam. Masalahnya ada di cara semua itu dikomunikasikan ke orang yang belum mengenalnya. Dari situ saya rumuskan satu pernyataan masalah yang menjadi acuan seluruh proses berikutnya: bagaimana desain kemasan bisa menutup jarak antara nilai produk yang sudah ada dan persepsi konsumen yang belum terbentuk?
-
Ideate
Di tahap ini saya mulai mengeksplorasi kemungkinan solusi. Saya pakai Gemini AI sebagai mitra berpikir untuk mendiskusikan berbagai pendekatan, dari pemilihan warna, struktur kemasan, sampai elemen visual yang bisa membawa identitas budaya Massenrempulu tanpa terlihat kuno. Tidak semua ide yang muncul saya pakai. Ada yang saya tolak karena terlalu generik, ada yang tidak relevan dengan konteks konsumennya. Proses ini lebih banyak membuang daripada menyimpan, dan itu memang tujuannya.
Dari sesi ideasi bersama Gemini juga lahir narasi storytelling untuk tiga persona pengguna. Saya ajukan prompt yang spesifik tentang siapa konsumen Deppa Tori yang paling realistis, lalu output yang keluar saya evaluasi satu per satu. Ada bagian yang saya pertahankan, ada yang saya tulis ulang karena terlalu generik dan tidak mencerminkan konteks lokalnya. -
Prototype
Ideation yang sudah disaring kemudian saya bawa ke Canva untuk dieksekusi secara visual. Saya tidak langsung ke versi final. Ada beberapa iterasi yang saya coba, terutama soal komposisi warna antara hitam matte, cokelat gula aren, dan krem wijen (beige), serta posisi window arsitektural pada kemasan. Ada versi yang saya buang karena proporsinya tidak seimbang. Ada yang terlalu ramai. Proses ini tidak selesai dalam waktu singkat.
-
Test
Pengujian yang saya lakukan dalam proyek ini terbatas. Tidak ada uji coba kemasan di lapangan, tidak ada feedback langsung dari konsumen nyata. Sebagai gantinya saya melakukan validasi logika, yaitu setiap keputusan desain saya uji dengan satu pertanyaan sederhana: apakah ini menjawab kebutuhan persona yang sudah saya definisikan? Kalau tidak bisa dijawab, keputusan itu saya revisi. Ini bukan pengujian yang ideal, tapi dalam konteks tugas ini, cukup untuk memastikan tidak ada keputusan desain yang lahir dari selera pribadi semata.
Penerapan Tools Value Chain & Storytelling
Dalam mengoptimasi proyek ini, saya mengadopsi dua instrumen dari Ten Tools for Design Thinking:
1. Value Chain Analysis (Tools Nomor 3)
Dalam konteks desain, Value Chain Analysis tidak hanya terbatas pada efisiensi produksi. Analisis ini mencakup upaya untuk mengidentifikasi dari mana nilai sesungguhnya suatu produk berasal dan bagaimana cara menyampaikan nilai tersebut secara visual kepada pelanggan yang belum pernah menyaksikan prosesnya.
Deppa Tori dapat dipetakan dalam beberapa tahap.
- Tahap pertama adalah bahan baku primer. Petani lokal di Sulawesi menyediakan gula aren yang digunakan. Gula aren diproduksi dengan cara menyadap getah secara manual, yang membutuhkan banyak waktu dan keahlian. Ini adalah aspek nilai yang paling penting dan seringkali tidak disampaikan kepada pelanggan akhir.
- Transformasi produksi merupakan fase kedua. Metode tradisional yang digunakan dalam pembuatan Deppa Tetekan tidak dapat digantikan oleh produksi massal tanpa mengorbankan keunikannya. Teknik memasak yang telah diwariskan dari generasi ke generasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap struktur, tekstur, dan aroma kue tersebut. Meskipun terkesan abstrak, nilai-nilai ini bersifat konkret dan autentik.
- Pengemasan berfungsi sebagai titik peralihan pada langkah ketiga. Rantai nilai konvensional mulai runtuh pada tahap ini. Karena kemasan hanya dimaksudkan sebagai media perlindungan fisik dan bukan media untuk mengekspresikan nilai, seluruh nilai dari fase-fase sebelumnya tidak dapat sampai kepada konsumen.
- Desain Baru merupakan fase keempat. Kemasan berfungsi sebagai satu-satunya representasi produk ketika diposting di media sosial atau situs e-commerce. Tidak ada penjual yang hadir untuk menjelaskannya. Tidak ada aroma yang dapat tercium. Hanya gambar
Persona-persona berikut ini tidak didasarkan pada data wawancara aktual, melainkan mereka adalah konstruksi fiktif yang dihasilkan dari kesimpulan tentang perilaku konsumen. Kepribadian-kepribadian ini harus diverifikasi melalui wawancara langsung atau pengamatan dalam proses penelitian desain yang sesungguhnya.
Persona Pertama (Hakim, 28 tahun, Perantau Sulawesi di Jakarta)
Hakim bekerja di sebuah perusahaan rintisan teknologi di Jakarta Pusat. Sudah tiga tahun ia tidak mengunjungi Massenrempulu. Sesekali, saat istirahat dari lembur, ia membuka platform belanja daring untuk mencari barang-barang dari kampung halamannya. Baginya, membeli barang-barang lokal lebih bertujuan untuk membangun “penyangga” emosional yang mengukuhkan identitasnya saat tinggal jauh dari rumah, daripada sekadar untuk memuaskan rasa laparnya.
Tantangan utama Hakim adalah krisis keaslian. Banyak barang di pasar digital yang mengklaim "asli", tetapi ia meragukannya karena kemasan plastiknya yang generik. "Apakah ini benar-benar Deppa Tori dari Enrekang, atau hanay produk massal dengan label daerah?" tanyanya pada diri sendiri.
Dua komponen utama dari desain ini meredakan kekhawatiran Hakim. Bukti geografis yang tak terbantahkan disajikan melalui lambang Gunung Nona (Buttu Kabobong) yang ditempatkan dengan indah, sebuah tanda yang hanya dipahami oleh orang-orang yang memiliki ikatan spiritual dengan Enrekang. Sebelum melakukan pembelian, Hakim diberikan bukti yang nyata melalui Jendela Transparan yang menampilkan warna coklat alami gula aren dan tekstur biji wijen. Identitas visualnya berbicara lebih keras daripada kata “Asli,” sehingga tidak diperlukan pernyataan verbal.
Persona Kedua (Sunny, 24 Tahun, Konten Kreator Kuliner Lokal)
Untuk postingan media sosialnya, Sunny selalu mencari produk-produk UKM lokal yang menarik secara visual. Kriterianya sederhana namun berguna. Misalnya kemasannya harus menarik secara visual tanpa perlu banyak hiasan tambahan.Masalah yang dihadapi Sunny adalah ketidakefisienan konten. Sunny terpaksa harus mengeluarkan usaha extra saat menata foto-foto karena kemasan konvensional yang membosankan atau kemasan yang terlalu dipenuhi dengan informasi yang tidak perlu. Dia tidak memiliki motivasi untuk mempromosikan produk jika kemasannya tidak “fotogenik.” Jendela melengkung dan tata letak diagonal pada pola ukiran pada desain ini bukan sekadar elemen dekoratif. Keduanya menciptakan ketegangan visual, yang memberikan nuansa kontemporer dan dinamis pada susunan gambar. Ruang kosong yang diperlukan untuk mencegah produk “hilang” saat di foto dengan latar belakang apapun disediakan oleh Ruang Kosong. Gaya ini cocok untuk dipamerkan di layar digital manapun karena secara alami sesuai dengan kebutuhan pengembang konten.
Persona Ketiga (Pak Hendra, 45 Tahun, Eksekutif yang Transit di Bandara)
Sebelum naik pesawat, Pak Hendra hanya punya waktu lima belas menit untuk mencari suvenir bagi rekan bisnisnya di Surabaya. Kriterianya sangat ketat. Produk tersebut harus terlihat mewah, tahan lama, dan memancarkan “prestise” saat dipamerkan di meja rapat. Masalahnya Batasan waktu dan risiko sosial adalah dua masalah yang dihadapi Bapak Hendra. Ia terlalu sibuk untuk membaca deskripsi yang panjang. Ia membutuhkan konfirmasi segera bahwa produk tersebut berkualitas terbaik dan tidak akan membuatnya terlihat buruk sebagai seorang eksekutif.
Solusi desainnya adalah: Dalam tiga detik pertama, perpaduan warna solid Hitam/Coklat Gula Aren dan Oranye Terakota yang hangat namun mewah langsung memberikan kesan kemewahan. Bapak Hendra merasa yakin bahwa produk tersebut tidak rusak berkat jendela transparan yang memperlihatkan bentuk persegi panjang yang utuh dan meruncing. Ketika dipadukan dengan teks “Warisan Kuliner Massenrempulu”, Bapak Hendra memiliki cerita yang ringkas namun berkesan untuk disampaikan kepada rekan bisnisnya: bahwa ia membawa lebih dari sekadar camilan pasar biasa, melainkan sepotong sejarah kuliner yang berharga.
Redesign Kemasan
Disini saya menggunakan Canva untuk mendesign mockup kemasan, tampilan 2D dan Pacdora.com untuk membuat tampilan 3D. Mencari referensi dan sumber lewat Pinterest, Google.
Proses
HASIL
VERSI 3D (Pacdora.com + Gemini AI (untuk tampilan HD))
Makna Pemilihan Pallet Warna
Disini saya menggunakan bantuan Web Coolors.co untuk mempertimbangan Pallete warna yang dipilih

#1A1A1A Carbon Black
Visual latar belakang terlihat tajam agar warna cokelat wijen pada kue (melalui jendela transaparan) terlihat lebih menggiurkan. Juga membuat teks berwarna terang lebih menonjol dan mudah dibaca.
#D2691E Chocolate
Filosofi dari warna ini melambangkan bumi, warna karamel (cori) dari gula aren
#F5F5DC Beige
Ciri khas dari warna biji wijen. Digunakan juga sebagai warna untuk teks "Nama Produk"

.png)

)%20(1).png)

Tidak ada komentar